BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Penelitian
Undang-undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 angka 14
menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) adalah suatu pembinaan yang
di tujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan
melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut.
Kelompok
bermain sering disingkat dengan KB, yaitu bentuk pendidikan non
formal yang menyediakan layanan pendidikan bagi anak usia 2-6 tahun.
KB berfungsi untuk membantu meletakkan dasar-dasar kearah perkembangan sikap,
pengetahuan dan keterampilan yang di perlukan bagi anak dalam menyesuaikan diri
dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya (Direktorat
PAUD, 2006).
Kelompok
Bermain Daarul ‘Ilmi merupakan salah satu KB yang berada di Jln. Magelang
Km.11 Murten, Kelurahan Tridadi,
Kecamatan
Sleman, Kabupaten Sleman, DIY. Pendirian KB Daarul ‘Ilmi merupakan realisasi
dari program pendidikan anak usia dini yang menggalakkan KB sebagai salah satu
bentuk pelayanan pendidikan anak usia dini dan masyarakat.
Pengurus KB
Daarul ‘Ilmi mempunyai perhatian besar terhadap pendidikan anak usia dini
sehingga mempunyai inisiatif untuk mendirikan Kelompok Bermain. Selain didasari
oleh menu generik, juga diwarnai oleh pengetahuan dan keinginan para pendiri/
pimpinan dan pendidik yang berkecimpung dalam Kelompok Bermain tersebut.
KB Daarul
‘Ilmi mempunyai visi dan misi sebagai berikut:
VISI : Menjadikan Kelompok Bermain
Daarul ‘Ilmi sebagai sarana membentuk generasi yang sholeh dan ‘alim
MISI :
1.
Membekali anak didik agar dapat mecintai
Alloh dan RosulNya.
2.
Memberikan dasar pondasi bagi anak didik
agar menjadi pribadi yang sholeh dan sholihah, serta berbakti kepada orangtua.
3.
Membina serta mengarahkan agar anak
didik dapat berfikir secara kreatif dan mandiri.
4.
Melaksanakan kegiatan belajar mengajar
dengan system learning by doing dalam
kegiatan permainan yang menyenangkan bagi anak didik.
Program S1
PG-PAUD Universitas Terbuka menargetkan lulusannya menjadi tenaga pendidik PAUD
Profesional yaitu yang dapat mengembangkan program PAUD dan membuat inovasi.
Salah satu mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa adalah Analisis Kegiatan
Pengembangan Anak Usia Dini. Dalam rangka memenuhi tugas dalam mata kuliah
tersebut maka telah dilakukan penelitian di KB Daarul ‘Ilmi pada tanggal 25 Mei
2015 yang bertujuan mengumpulkan data mengenai kegiatan- kegiatan anak yang
dianggap perlu diteliti lebih lanjut untuk selanjutnya dianalisis kritis.
Kemandirian anak sangat diperlukan dalam rangka membekali mereka untuk
menjalani kehidupan yang akan datang. Perlu ketelatenan dan kesabaran pendidik
dalam mengajarkan kemandirian. Penanaman kemandirian di Kelompok Bermain diharapkan agar anak dapat membuat keputusan secara
mandiri dan belajar dari konsekwensi yang ditimbulkan keputusan yang
diambilnya. Melihat hal tersebut menarik untuk dilakukan penelitian.
B.
Fokus Penelitian
Setelah diadakan observasi di KB Daaru ‘Ilmi, maka
penelitian ini terfokus pada “membentuk karakter anak usia dini yang mandiri
melalui kegiatan mengambil dan mengembalikan peralatan belajar sendiri”.
C.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan :
1.
Mengumpulkan
data mengenai:
a.
Alasan pendidik melakukan kegiatan “membentuk
karakter anak usia dini yang mandiri melalui kegiatan mengambil dan
mengembalikan peralatan belajar sendiri”;
b.
Tujuan pendidik
melakukan kegiatan tersebut ;
c.
Kebijakan yang
mendukung pendidik melakukan kegiatan tersebut;
2.
Membuat analisis kritis (critical
analysis) mengenai kegiatan tersebut.
D.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat untuk
1.
Memberi masukan
terhadap kegiatan pengembangan anak di KB Daarul ‘Ilmi
2.
Melatih
mahasiswa melakukan Penelitian Kelas
3.
Mengembangkan
kemampuan mahasiswa dalam menganalisis suatu kegiatan anak di lembaga PAUD
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kemandirian
Kemandirian adalah sikap
dan perilaku seseorang yang mencerminkan perbuatan yang cenderung individual
(mandiri), tanpa bantuan dan pertolongan dari orang lain. Kemandirian identik
dengan kedewasaan, berbuat sesuatu tidak harus ditentukan atau diarahkan
sepenuhnya oleh orang lain. Kemandirian anak sangat diperlukan dalam rangka
membekali mereka untuk menjalani kehidupan yang akan datang. Dengan
kemandirian ini seorang anak akan mampu untuk menentukan pilihan yang ia anggap
benar, selain itu ia berani memutuskan pilihannya dan bertanggung jawab atas
resiko dan konsekwensi yang diakibatkan dari pilihannya tersebut.
Menurut Bacharuddin Mustafa (2008: 75) kemandirian adalah
kemampuan untuk mengambil pilihan dan menerima konsekwensi yang menyertainya. Kemandirian pada anak-anak mewujud ketika mereka menggunakan pikirannya
sendiri dalam mengambil berbagai keputusan; dari memilih perlengkapan belajar
yang ingin digunakannya, memilih teman bermain, sampai hal-hal yang relatif
lebih rumit dan menyertakan konsekwensi-konsekwensi tertentu yang lebih serius.
Selanjutnya Bacharuddin (2008: 75) menjelaskan bahwa tumbuhnya kemandirian pada
anak-anak bersamaan dengan munculnya rasa takut (kekuatiran) dalam berbagai
bentuk dan intensitasnya yang berbeda-beda. Rasa takut dalam takarannya yang
wajar dapat berfungsi sebagai ‘emosi perlindungan’ (protective emotion) bagi anak-anak, yang memungkinkannya mengetahui
kapan waktunya meminta perlindungan kepada orang dewasa atau orang tuanya.
Sedangkan menurut Syamsu Yusuf (2008: 130) kemandirian
merupakan karakteristik dari kepribadian yang sehat (healthy personality). Kemandirian individu tercermin dalam cara
berpikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan
mengembangkan diri, serta menyesuaikan diri secara konstruktif dengan norma
yang berlaku di lingkungannya.
Dalam mendorong tumbuhnya kemandirian anak usia dini,
Bacharudin Musthafa (2008: 75) menyarankan agar orang tua dan guru perlu memberikan
berbagai pilihan dan bila memungkinkan sekaligus memberikan gambaran
kemungkinan konsekwensi yang menyertai pilihan yang diambilnya. Dalam konteks
persekolahan atau taman kanak-kanak, aspirasi dan kemauan anak-anak pembelajar
perlu didengar dan diakomodasi. Dalam konteks lingkungan keluarga di rumah, ini
menuntut orang tua untuk lebih telaten dan sabar dengan cara memberikan
berbagai pilihan dan membicarakanya secara seksama dengan anak-anak setiap kali
mereka dihadapkan pada pembuatan keputusan-keputusan penting. Semua ini
diharapkan agar anak dapat membuat keputusan secara mandiri dan belajar dari
konsekwensi yang ditimbulkan keputusan yang diambilnya.
B. Ciri-Ciri Kemandirian Anak
Anak yang mandiri adalah anak yang memiliki kepercayaan diri dan motivasi
yang tinggi. Sehingga dalam setiap tingkah lakunya tidak banyak menggantungkan
diri pada orang lain, biasanya pada orang tuanya. Anak yang kurang mandiri
selalu ingin ditemani atau ditunggui oleh orang tuanya, baik pada saat sekolah
maupun pada saat bermain. Kemana-mana harus ditemani orang tua atau saudaranya.
Berbeda dengan anak yang memiliki kemandiran, ia berani memutuskan pilihannya
sendiri, tingkat kepercayaan dirinya lebih nampak, dan mudah menyesuaikan diri
dengan lingkungan dan teman bermain maupun orang asing yang baru dikenalnya.
Menurut Zimmerman yang dikutif oleh Tillman dan Weiss
(2000) anak yang mandiri itu adalah anak yang mempunyai kepercayaan diri dan
motivasi instrinsik yang tinggi. Zimmerman yakin bahwa kepercayaan diri dan
motivasi instrinsik tersebut merupakan kunci utama bagi kemandirian anak.
Dengan kepercayaan dirinya, anak berani tampil dan berekspresi di depan orang
banyak atau di depan umum. Penampilannya tidak terlihat malu-malu, kaku, atau
canggung, tapi ia mampu beraksi dengan wajar dan bahkan mengesankan. Sementara,
motivasi instrinsik, atau motivasi bawaan, dapat membawa anak untuk berkembang
lebih cepat, terutama perkembangan otak atau kognitifnya. Anak yang memiliki
motivasi tinggi ini dapat terlihat dari perilakunya yang aktif, kreatif, dan
memiliki sifat ingin tahu (curiositas) yang tinggi. Anak tersebut biasanya
selalu banyak bertanya dan serba ingin tahu, selalu mencobanya,
mempraktekkannya, dan mencoba-coba sesuatu yang baru.
Sedangkan menurut Pintrich (1999) anak mandiri itu adalah anak yang mampu
menggabungkan motivasi dan kognitifnya sekaligus, sehinggga dapat dikatakan
bahwa menjadi anak yang mandiri tergantung pada kepercayaan terhadap diri
sendiri dan motivasinya. Pada aspek motivasi, anak yang mandiri, biasanya
ditandai dengan kemauannya yang keras, tidak cepat putus asa, bahkan tidak
cepat bosan sebelum ia mampu mengetahui dan mencapai sesuatu yang dicarinya.
Sementara pada aspek kognitif, anak telah memiliki banyak pengetahuan dan
perbendaharaan kata atau kalimat yang diutarakannya. Dengan segenap pengetahuan
dan perbendaharaan kata tersebut, maka akan memuculkan sikap mandiri dan
keberanian yang tinggi, baik dalam sikap dan perbuatannya, maupun dalam menetapkan
keputusan yang diambilnya.
Selanjutnya, Tim Pustaka Familia (2006: 45) memberikan
beberapa ciri khas anak mandiri, yaitu: 1) mempunyai kecenderungan memecahkan
masalah dari pada berkutat dalam kekhawatiran bila terlibat masalah; 2) tidak
takut mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan baik-buruknya; 3) percaya
terhadap penilaian sendiri sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta
bantuan, dan 4) mempunyai kontrol yang lebih baik terhadap hidupnya.
Dengan membaca beberapa pendapat di atas, dapat
dipahami bahwa sebetulnya setiap anak itu cenderung untuk mandiri atau memiliki
potensi untuk mandiri, karena setiap anak dikarunia perasaan, pikiran, kehendak
sendiri, yang kesemuanya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat serta
struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase perkembangannya. Selain itu,
kemandirian anak juga sangat dipengaruhi oleh perlakuan orang tua atau
saudara-saudaranya dalam keluarga. Anak yang selalu diawasi secara ketat,
banyak dicegah atau selalu dilarang dalam setiap aktivitasnya dapat berakibat
patahnya kemandirian seseorang. Sikap yang bijak dan perlakuan yang wajar pada anak
dapat memicu tumbuhnya kemandirian anak. Orang tua yang terlalu protektif pada
anaknya, terlalu ketat pengawasannya, banyak dicegah, dengan alasan takut
kotor, takut merusak, atau kekhawatiran terjadi kecelakaan, pada akhirnya bisa
berakibat fatal. Alih-alih bermaksud untuk melindungi atau menjaga anak dari
kecelakaan, kebersihan, dan kerusakan, malah membuat anak menjadi penakut,
kurang percaya diri, serta serba ketergantungan pada orang lain.
Sikap yang wajar dan tidak berlebihan yang perlu
dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya adalah sebagaimana yang dikemukakan
oleh Sylvia Rimm (2003: 47), yang menyatakan bahwa untuk menumbuhkan sikap
percaya diri anak salah satunya adalah senang melihat keberhasilan anak dan
kecewa melihat sikap buruk mereka. Cara ini, menurut Rimm, dianggap sebagai
alat paling efektif dalam menerapkan disiplin pada anak. Cara lain, yang
dikemukakan Rimm, adalah adakalanya orang tua perlu meninggikan nada suara
serta bersikap tegas dalam memberikan batasan kepada anak agar rasa percaya
diri bisa tumbuh dalam diri anak.
Dengan meramu dari beberapa pendapat di atas, dapat
dipahami bahwa ciri-ciri kemandirian anak, termasuk juga pada anak usia dini,
adalah sebagai berikut:
1. Kepercayaan pada diri sendiri. Rasa percaya diri, atau dalam kalangan anak
muda biasa disebut dengan istilah ‘PD’ini sengaja ditempatkan sebagai ciri
pertama dari sifat kemandirian anak, karena memang rasa percaya diri ini
memegang peran penting bagi seseorang, termasuk anak usia dini, dalam bersikap
dan bertingkah laku atau dalam beraktivitas sehari-hari. Anak yang memiliki
kepercayaan diri lebih berani untuk melakukan sesuatu, menentukan pilian sesuai
dengan kehendaknya sendiri dan bertanggung jawab terhadap konsekwensi yang
ditimbulkan karena pilihannya. Kepercayaan diri sangat terkait dengan
kemandirian anak. Dalam kasus tertentu, anak yang memiliki percaya diri yang
tinggi dapat menutupi kekurangan dan kebodohan yang melekat pada dirinya. Oleh
karena itu, dalam berbagai kesempatan, sikap percaya diri perlu ditanamkan dan
dipupuk sejak awal pada anak usia dini ini.
2. Motivasi instrinsik yang tinggi.
Motivasi instrinsik adalah dorongan yang tumbuh dalam diri untuk melakukan
sesuatu. Motivasi instrinsik biasanya lebih kuat dan abadi dibandingkan dengan
motivasi ekstrinsik walupun kedua motivasi ini kadang berkurnag, tapi kadang
juga bertambah. Kekuatan yang datang dari dalam akan mampu menggerakkan untuk
melakukan sesuatu yang diinginkan. Keingintahuan seseorang yang murni adalah
merupakan salah satu contoh motivsasi instrinsik. Dengan adanya keingintahuan
yang mendalam ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang
memungkinkan ia memperoleh apa yang dicita-citakannya. Dengan keinginan dan
tekad yang kuat, orang biasanya menjadi lupa waktu, keadaan, dan bahkan lupa
diri sendiri.
3. Mampu dan berani menentukan
pilihan sendiri. Anak mandiri memiliki kemampuan dan keberanian dalam
menentukan pilihan sendiri. Misalnya dalam memilih alat bermain atau alat
belajar yang akan digunakannya.
4. Kreatif dan inovatif. Kreatif dan
inovatif pada anak usia dini merupakan ciri anak yang memiliki kemandirian,
seperti dalam melakukan sesuatu atas kehendak sendiri tanpa disuruh oleh orang
lain, tidak ketergantungan kepada orang lain dalam melakukan sesuatu, meyukai
pada hal-hal baru yang semula dia belum tahu, dan selalu ingin mencoba hal-hal
yang baru.
5. Bertanggung jawab
menerima konsekwensi yang menyertai pilihannya. Di dalam mengambil keputuan
atau pilihan tentu ada konsekwensi yang melekat pada pilihannya. Anak yang
mandiri dia bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya apapun yang
terjadi tentu saja bagi anak Taman Kanak-kanak tanggung jawab pada taraf yang
wajar. Misalnya tidak menangis ketika ia salah mengambil alat mainan, dengan
senang hati mengganti dengan alat mainan yang lain yang diinginkannya.
6. Menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Lingkungan sekolah (Taman Kanak-kanak) merupakan lingkungan baru
bagi anak-anak. Sering dijumpai anak menangis ketika pertama masuk sekolah
karena mereka merasa asing dengan lingkungan di Taman Kanak-kanak bahkan tidak
sedikit yang ingin ditunggui oleh orang tuanya ketika anak sedang belajar.
Namun, bagi anak yang memiliki kemandirian, dia akan cepat menyesuaiakan diri
degan lingkungan yang baru.
7. Tidak ketergantungan kepada orang
lain. Anak mandiri selalu ingin mencoba sendiri-sendiri dalam melakukan sesuatu
tidak bergantung pada orang lain dan anak tahu kapan waktunya meminta bantuan
orang lain, setelah anak berusaha melakukannya sendiri tetapi tidak mampu untuk
mendapatkannya, baru anak meminta bantuan orang lain. Seperti mengambil alat
mainan yang berada di tempat yang tidak terjangkau oleh anak.
C.
Mengembangkan Kemandirian Anak
Mengembangkan kemandirian pada anak pada prinsipnya
adalah dengan memberikan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai akivitas.
Semakin banyak kesempatan yang diberikan pada anak, maka anak akan semakin
terampil mengembangkan skillnya
sehingga lebih percaya diri. Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka
mengembangkan kemandirian anak ini, sebagaimana yang disarankan oleh Ratri Sunar Astuti (2006:
49), yaitu:
1. Anak-anak didorong agar mau
melakukan sendiri kegiatan sehari-hari yang ia jalani seperti mandi sendiri,
gosok gigi, makan sendiri, bersisir, berpakaian, dan lain sebagainya segera
setelah mereka mampu melakukan sendiri.
2. Anak diberi kesempatan sesekali
mengambil keputusan sendiri, misalnya memilih baju yang akan dipakai.
3. Anak diberi kesempatan untuk
bermain sendiri tanpa ditemani sehingga terlatih untuk mengembangkan ide dan
berpikir untuk dirinya. Agar tidak terjadi kecelakaan maka atur ruangan tempat
bermain anak sehingga tidak ada barang yang membahayakan.
4. Biarkan anak mengerjakan segala
sesuatu sendiri walaupun sering membuat kesalahan.
5. Ketika bermain bersama bermainlah
sesuai keinginan anak, jika anak tergantung pada kita maka beri dorongan untuk
berinisiatif dan dukung keputusannya.
6. Dorong anak untuk mengungkapkan
perasaan dan idenya
7. Latihlah anak untuk
mensosialisasi diri, sehingga anak belajar menghadapi problem sosial yang lebih
kompleks. Jika anak ragu-ragu atau takut cobalah menemaninya terlebih dahulu,
sehingga anak tidak terpaksa.
8. Untuk anak yang lebih besar,
mulai ajak anak untuk mengurus rumah tangga, misalnya menyiram
tanaman, membersihkan meja, menyapu ruangan, dan lain-lain.
9. Ketika anak mulai memahami konsep
waktu dorong mereka untuk mengatur jadwal pribadinya, misalnya kapan akan belajar,
bermain dan sebagainya. Orang tua bisa mendampingi dengan menanyakan
alasan-alasan pengaturan waktunya.
10. Anak-anak juga perlu diberi tanggung
jawab dan konsekwensinya bila tidak memenuhi tanggung jawabnya. Hal ini akan
membantu anak mengembangkan rasa keberartian sekaligus disiplin.
11. Kesehatan dan kekuatan biasanya berkaitan juga dengan kemandirian, sehingga
perlu memberikan menu yang sehat pada anak dan ajak anak untuk berolah raga
atau melakukan aktivitas fisik.
D. Pendidikan Karakter Anak Usia Dini
Karakter adalah tabiat atau kebiasaan
untuk melakukan hal yang baik. Nilai-nilai karakter adalah sikap dan perilaku
yang didasarkan pada norma dan nilai yang berlaku di masyarakat, yang mencakup
aspek spiritual, aspek personal/ kepribadian, aspek sosial, dan aspek
lingkungan.
Pendidikan karakter adalah upaya
penanaman nilai-nilai karakter kepada anak didik yang meliputi pengetahuan,
kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai- nilai kebaikan
dan kebajikan, kepada Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun agar
menjadi manusia yang berakhlak.
Nilai- nilai pendidikan karakter yang
dapat ditanamkan pada anak usia dini (0-6 tahun), mencakup empat aspek, yaitu:
1. Aspek
spiritual
2. Aspek
personal/ kepribadian
3. Aspek
sosial
4. Aspek
lingkungan
Pendidikan karakter merupakan pendidikan
yang melibatkan penanaman pengetahuan, kecintaan dan penanaman perilaku
kebaikan yang menjadi sebuah pola/ kebiasaan. Pendidikan karakter tidak lepas
dari nilai-nilai dasar yang dipandang baik. Pada pendidikan anak usia dini
nilai-nilai yang dipandang sangat penting dikenalkan dan diinternalisasikan ke
dalam perilaku mereka mencakup:
1. Kecintaan
terhadap Tuhan YME
2. Kejujuran
3. Disiplin
4. Toleransi
dan cinta damai
5. Percaya
diri
6. Mandiri
7. Tolong
menolong, kerjasama, dan gotong royong
8. Hormat
dan sopan santun
9. Tanggung
jawab
10. Kerja
keras
11. Kepemimpinan
dan keadilan
12. Kreatif
13. Rendah
hati
14. Peduli
lingkungan
15. Cinta
bangsa dan tanah air
E.
Teori
Belajar Behavioristik
Belajar
menurut teori behavioristik merupakan perubahan tingkah laku hasil interaksi
antara stimulus dan respons, yaitu proses manusia untuk memberikan respon
tertentu berdasarkan stimulus yang datang dari luar. Teori belajar
behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar (outcome), yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat, dan
tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi di dalam otak manusia karena hal
tersebut tidak dapat dilihat. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila
ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.
Namun
demikian, tidak kalah penting adalah masukan (input) yang berupa stimulus. Stimulus dapat dimanipulasikan untuk
memperoleh hasil belajar yang diinginkan. Stimulus meliputi segala sesuatu yang
dapat dilihat, didengar, dicium, dirasa, dan diraba oleh seseorang.
Untuk
memperoleh hasil belajar yang diinginkan, selain manipulasi stimulus, ada
faktor penting lain yang sangat berpengaruh, yaitu faktor penguatan (reinforcement) yang mulai diperkenalkan
oleh Pavlov maupun Thorndike. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat
timbulnya respons. Penguatan dapat ditambahkan dan dikurangi untuk memperoleh
respons yang semakin kuat ataupun semakin lemah.
Thorndike
(dalam udin S. Winataputra,2009:2.10) mengemukakan tiga dalil tentang belajar,
yaitu dalil sebab akibat (law of effect),
dalil latihan/ pembiasaan (law of execise),
dalil kesiapan (law of readiness).
·
Dalil sebab akibat menyatakan bahwa
situasi atau hasil yang menyenangkan yang diperoleh dari suatu respons akan
memperkuat hubungan antara stimulus dan respons/ perilaku yang dimunculkan.
Sementara itu, situasi/ hasil yang tidak menyenangkan akan memperlemah hubungan
tersebut.
·
Dalil latihan/ pembiasaan menyatakan
bahwa latihan akan menyempurnakan respons. Pengulangan situasi atau pengalaman
akan meningkatkan kemungkinan munculnya respons yang benar. Walaupun demikian,
pengulangan situasi yang tidak menyenangkan tidak akan membantu proses belajar.
·
Dalil kesiapan menyatakan kondisi-
kondisi yang dianggap mendukung dan tidak mendukung pemunculan respons. Jika
siswa sudah siap (sudah belajar sebelumnya) maka ia akan siap untuk memunculkan
suatu respons atas dasar stimulus/ kebutuhan yang diberikan. Hal ini merupakan
kondisi yang menyenangkan bagi siswa dan akan menyempurnakan pemunculan
respons. Sebaliknya, jika siswa tidak siap untuk memunculkan respons atau
stimulus yang diberikan atau siswa merasa terpaksa memberi respons maka siswa
mengalami kondisi yang tidak menyenangkan yang dapat memperlemah pemunculan
respons.
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah anak- anak, pendidik,
dan pimpinan Kelompok Bermain Daarul ‘Ilmi Sleman.
B.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode interpretatif
yaitu menginterpretasikan data mengenai fenomena/ gejala yang diteliti di
lapangan. Pendekatan interpretatif memandang penelitian ilmiah
tidaklah cukup untuk dapat menjelaskan 'misteri' pengalaman manusia sehingga
diperlukan unsur manusiawi yang kuat dalam penelitian. Kebanyakan mereka yang
berada dalam kelompok ini lebih tertarik pada kasus-kasus individu dari pada
kasus-kasus umum (Morissan, 2009).
C.
Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah:
1.
Observasi, yaitu
untuk melihat fenomena yang unik/ menarik untuk dijadikan fokus penelitian
2.
Wawancara, yaitu
untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai fokus penelitian
3.
Dokumentasi,
yaitu mengumpulkan bukti- bukti dan penjelasan yang lebih luas mengenai fokus
penelitian
BAB IV
ANALISIS DATA
A.
Tabulasi Data
Untuk memudahkan analisis data, maka data hasil
penelitian dibuat tabulasi sebagai berikut:
|
Observasi
|
Wawancara dengan
Guru
|
Wawancara dengan
Pimpinan KB
|
Dokumentasi
|
|
-Anak mengambil manik- manik dalam
toples kemudian merangkainya sesuai keinginan mereka.
-Setelah selesai anak melepaskan
manik- manik dan dimasukkan kembali ke toples
-Anak mengambil kursi plastik yang
ditumpuk dipinggir dan mengangkat meja bersama- sama sebelum kegiatan
pembelajaran dimulai
-Anak mengambil buku dan lem setelah
di panggil guru satu per satu
-Anak mengerjakan tugas kolase
-Anak menjemur hasil karya anak di
depan masjid yang jaraknya tidak dekat dengan kelas
-Anak mengembalikan kursi ditumpuk dan
menggeser meja ke pinggir dengan bantuan guru
-Terlihat ada anak baru yang selalu
dibantu pendidiknya
|
-Yang
terpenting dalam kegiatan pembelajaran adalah menjadikan anak senang belajar. Mereka dapat bekerjasama mengatur meja dan
kursi itu hal yang membuat mereka mandiri.
-Tentu
saja kami selalu mengawasi dan membantu apabila anak merasa kesuliatan dalam
mengatur meja dan kursi.
-ya, ini sudah sering jadi anak sudah tahu dimana harus
menjemur hasil karyanya.
-Tentunya tidak mudah
melatih kemandirian anak. Yang jelas kami hanya memberi contoh yang kepada
anak, selanjutnya kami membimbing anak agar bisa lebih mandiri dan pada
akhirnya anak sudah bisa sendiri.
|
-KB
Daarul 'Ilmi utamanya menerapkan
pendidikan karakter
-Untuk membekali anak dari dasar agar menjadi
pribadi yang berakhlak mulia supaya siap untuk memasuki jenjang selanjutnya.
|
-Dalam dokumen
lembaga tercantum Misi lembaga salah satunya adalah
membina serta mengarahkan agar anak didik dapat berfikir secara kreatif dan
mandiri.
|
|
-Pendidik mempersilahkan anak- anak
mengambil manik- manik dari toples dan berkreasi sesuai keinginan anak
-Setelah selesai pendidik meminta anak
untuk membereskan manik- manik dan memasukkan kembali ke dalam toples
-Pendidik meminta anak mengambil kursi
plastik sendiri sebelum kegiatan kolase dimulai.
-Setelah kegiatan selesai anak-anak diminta
menjemur hasil karyanya di depan masjid
- Pendidik tidak mengawasi anak yang
berlarian menuju masjid untuk menjemur hasil karya, hanya membantu anak- anak
turun tangga pintu kelas saja.
-Setelah selesai guru meminta anak
mengembalikan kursi ke pinggir
|
-Hal ini kami lakukan
untuk melatih kemandirian anak, selain itu anak juga dapat berkreasi
membentuk meja sesuai dengan kemauan mereka sendiri.
-Yang dilakukan tentunya memberi kesempatan anak
untuk melakukan kegaiatan sendiri, memberi dorongan, dan membiarkan anak
belajar melakukan sendiri meskipun masih salah- salah. Karena mulai dari
kesalahan anak bisa melakukan hal yang benar akhirnya.
|
- Tentu saja penting, anak akan bisa membantu
dirinya sendiri untuk melakukan apa saja. Setiap hari kami mengajarkan
kemandirian kepada anak.
|
Dalam RKH tertulis kegiatan yang
dilakukan adalah memegang benda sambil membuat kreasi sesuai imajinasi anak
dan mengenal benda yang ada di langit dan dilanjutkan dengan kolase
|
|
Guru menggunakan manik- manik untuk
kegiatan memegang benda sambil membuat kreasi sesuai imajinasi anak
|
|
|
Dalam RKH tertulis alat yang dipakai
adalah manik- manik
|
B.
Analisis Kritis
Dalam dokumen lembaga KB
Daarul ‘Ilmi tercantum misi lembaga salah satunya adalah
membina serta mengarahkan agar anak didik dapat berfikir secara kreatif dan
mandiri. Seperti penuturan pemimpin KB Daarul ‘Ilmi bahwa setiap hari di
lembaganya mengajarkan kemandirian kepada anak. Hal ini dilakukan agar anak
dapat membantu dirinya sendiri untuk melakukan apa saja yang anak inginkan.
Dalil latihan/ pembiasaan yang
dikemukakan oleh Thorndike menyatakan bahwa latihan akan menyempurnakan
respons. Pengulangan situasi atau pengalaman akan meningkatkan kemungkinan
munculnya respons yang benar. Walaupun demikian, pengulangan situasi yang tidak
menyenangkan tidak akan membantu proses belajar. Dengan mengajarkan kemandirian
setiap hari melalui latihan, pengulangan situasi akan meningkatkan munculnya
respon/ perilaku yang dimunculkan anak.
Teori belajar behavioristik sangat
menekankan pada hasil belajar (outcome),
yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat, dan tidak begitu memperhatikan
apa yang terjadi di dalam otak manusia karena hal tersebut tidak dapat dilihat.
Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan
tingkah laku. Anak sudah bisa dikatakan mandiri apabila anak sudah menunjukkan
perubahan tingkah laku yang tadinya anak belum bisa menjadi bisa melakukan
sesuatu.
Dalam mendorong
tumbuhnya kemandirian anak usia dini, Bacharudin Musthafa (2008: 75) menyarankan agar
orang tua dan guru perlu memberikan berbagai pilihan dan bila memungkinkan
sekaligus memberikan gambaran kemungkinan konsekwensi yang menyertai pilihan
yang diambilnya. Dalam konteks persekolahan atau taman kanak-kanak, aspirasi dan kemauan
anak-anak pembelajar perlu didengar dan diakomodasi.
Dua kegiatan yang dilakukan yaitu kegiatan memegang
benda sambil membuat kreasi dan membuat kolase terlihat sekali bahwa anak didik
di KB Daarul ‘Ilmi sebagian besar sudah mandiri. Hal ini dapat dilihat saat
anak- anak sudah seperti otomatis mereka mengambil peralatan belajar dan
mengembalikannya sendiri dengan pengawasan dari pendidik. Bahkan pendidik
membiarkan anak berkreasi menata meja untuk mereka belajar sesuai keinginan
anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Bacharudin Musthafa di atas bahwa kemauan anak perlu di
dengar dan di akomodasi.
Pimpinan KB Daarul ‘Ilmi menuturkan bahwa yang menjadi
prioritas lembaga adalah pendidikan karakter anak. Hal ini dimaksudkan untuk
membekali anak dari dasar agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia supaya siap
untuk memasuki jenjang selanjutnya. Pendidikan karakter tidak lepas dari
nilai-nilai dasar yang dipandang baik. Pada pendidikan anak usia dini
nilai-nilai yang dipandang sangat penting dikenalkan dan diinternalisasikan ke
dalam perilaku mereka, salah satu diantaranya adalah menjadikan anak mandiri.
Upaya-upaya yang dilakukan dalam
rangka mengembangkan kemandirian anak di KB Daarul ‘Ilmi adalah
memberi kesempatan anak untuk melakukan kegaiatan sendiri, memberi dorongan,
dan membiarkan anak belajar melakukan sendiri meskipun masih salah- salah.
Karena mulai dari kesalahan anak bisa melakukan hal yang benar akhirnya,
seperti yang dituturkan oleh pendidik KB. Hal ini sesuai dengan yang disarankan oleh Ratri Sunar Astuti
Pegembangan kemandirian yaitu antara lain : Anak-anak didorong agar mau melakukan sendiri kegiatan
sehari-hari yang ia jalani; Anak diberi kesempatan untuk bermain sendiri tanpa
ditemani sehingga terlatih untuk mengembangkan ide dan berpikir untuk dirinya; Biarkan anak
mengerjakan segala sesuatu sendiri walaupun sering membuat kesalahan.
Pelaksanaan kegiatan anak mengambil dan mengembalikan
kursi plastik sendiri sudah berjalan baik. Ini berarti pendidik sudah berhasil
mengembangkan kemandirian anak. Hanya saja hal yang masih perlu pengawasan dan
bantuan adalah dalam menata meja yang terbuat dari kayu. Meskipun anak- anak
mengangkat meja bersama- sama tentu saja mengandung resiko anak akan terbentur
atau tertimpa meja yang lumayan berat untuk anak. Pendidik tidak bisa dikatakan
salah dalam ini. Karena di dalam kegiatan tersebut banyak manfaatnya, seperti
melatih anak bersosialisasi dengan teman, melatih anak bekerja sama dan
tentunya mengasah kreatifitas anak membentuk meja sesuai keinginan mereka.
Pelaksanaan kegiatan
anak menjemur hasil karya anak ke depan masjid, pendidik tidak
mengawasi anak yang berlarian menuju masjid untuk menjemur hasil karya, hanya
membantu anak- anak turun tangga pintu kelas saja. Jarak dari kelas ke masjid
padahal tidak dekat. Anak- anak harus melewati lapangan sekolah dan taman depan
masjid barulah menjemur hasil karya mereka di tangga masuk masjid. Anak- anak
sendiri memang terlihat sudah mandiri, tetapi keselamatan anak tetap harus diawasi.
Bisa saja anak terjatuh saat berlari- lari atau pada saat naik tangga masjid.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa dalam kegiatan mengambil dan mengembalikan peralatan belajar sendiri di
TPA Daarul ‘Ilmi terbukti dapat membentuk karakter anak usia dini yang mandiri.
Meskipun dalam pelaksanaannya masih perlu ditingkatkan lagi dalam pengawasannya
terhadap anak.
BAB V
KESIMPULAN DAN
SARAN
A.
Kesimpulan
1.
Misi KB Daarul
‘Ilmi salah satunya adalah membina serta mengarahkan agar
anak didik dapat berfikir secara kreatif dan mandiri. Dalam kegiatan pengembangan
kemandirian anak sudah dilaksanakan dengan baik. Terbukti dalam kegiatan
mengambil dan mengembalikan peralatan belajar, anak- anak sudah bisa
melakukannya sendiri dengan baik.
2.
Upaya- upaya yang
dilakukan pendidik dalam mengembangkan kemandirian anak juga sudah sesuai
3.
Prioritas
lembaga yang menekankan pada pendidikan karakter anak sudah dilaksanakan
khususnya dalam hal melatih kemandirian.
4.
Pelaksanaan
kegiatan mengambil dan mengembalikan peralatan belajar terbukti melatih
kemandirian anak, hanya saja pendidik masih kurang dalam pengawasannya.
B.
Saran
Saran yang bisa saya berikan dalam penelitian ini
adalah sebisa mungkin agar pendidik mengawasi semua kegiatan yang dilakukan
anak. Hal ini untuk mencegah terjadinya hal- hal yang tidak diinginkan pada
anak. Karena tugas seorang pendidik adalah mendidik dan mengasuh anak
menggantikan fungsi dan peran orang tua di sekolah.
DAFTAR
PUSTAKA
Astuti,
Ratri Sunar. (2006). Melatih Anak Mandiri.Yogyakarta:
Kanisius
http://fipumj.ac.id/artikel8f14e45fceea167a5a36dedd4bea2543-MEMAHAMI-PERILAKU-KEMANDIRIAN-ANAK-USIA-DINI.html (diunduh tanggal 25 mei 2015)
https://www.academia.edu/7697550/PENDIDIKAN_KARAKTER_PADA_PENDIDIKAN_ANAK_USIA_DINI (diunduh tanggal 25 mei 2015)
Kementrian
Pendidikan Nasional. (2012). Pedoman Pendidikan Karakter pada
Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Kemendiknas
Mustafa,
Bacharudin. (2008). Dari Literasi Dini ke
Literasi Teknologi. Bandung: Yayasan CREST (Center for Reseach on Education
and Sociocultural Transformation).
Pintrich,
P.R. (1999). The Role of Motivation in
Promoting and Sustaining -Regulated Learning.(Online). Tersedia: www.ece.uncc.edu.
Rimm,
Sylvia. (2003). Raising Preschoolers Parenting for
Today. Terjemahan: Mendidik dan
Menerapkan Disiplin Pada Anak Prasekolah. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama
Setiawan,
Denny. (2014). Analisis Kegiatan
Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini. Tangerang Selatan: Universitas
Terbuka.
Tillman,
K.J. dan Weiss, M (2000). Self-Regulated
Learning as a Cross- Curricular Competence (PISA).(Online). Tersedia:
www.pisa.on/pdf/turmo-ioste2004.pdf10 Agustus 2006
Tim Pustaka Familia. (2006) Seri
Pustaka Familia MEMBUAT PRIORITAS, Melatih Anak Mandiri. Yogykarta:
Penerbit Kanisius
Winataputra,
Udin S; dkk (2009). Teori belajar dan
pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka
Yusuf, Syamsu. (2009). Psikologi Perkembangan Anak &
Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar