Senin, 03 Agustus 2015

MEMBENTUK KARAKTER ANAK USIA DINI YANG MANDIRI MELALUI KEGIATAN MENGAMBIL DAN MENGEMBALIKAN PERALATAN BELAJAR SENDIRI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Penelitian
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 angka 14 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) adalah suatu pembinaan yang di tujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Kelompok bermain sering disingkat dengan KB, yaitu bentuk pendidikan non formal  yang menyediakan layanan pendidikan bagi anak usia 2-6 tahun. KB berfungsi untuk membantu meletakkan dasar-dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan dan keterampilan yang di perlukan bagi anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya (Direktorat PAUD, 2006).
Kelompok Bermain Daarul ‘Ilmi merupakan salah satu KB yang berada di Jln. Magelang Km.11 Murten, Kelurahan Tridadi, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, DIY. Pendirian KB Daarul ‘Ilmi merupakan realisasi dari program pendidikan anak usia dini yang menggalakkan KB sebagai salah satu bentuk pelayanan pendidikan anak usia dini dan masyarakat.
Pengurus KB Daarul ‘Ilmi mempunyai perhatian besar terhadap pendidikan anak usia dini sehingga mempunyai inisiatif untuk mendirikan Kelompok Bermain. Selain didasari oleh menu generik, juga diwarnai oleh pengetahuan dan keinginan para pendiri/ pimpinan dan pendidik yang berkecimpung dalam Kelompok Bermain tersebut.
KB Daarul ‘Ilmi mempunyai visi dan misi sebagai berikut:
VISI : Menjadikan Kelompok Bermain Daarul ‘Ilmi sebagai sarana membentuk generasi yang sholeh dan ‘alim

MISI :
1.         Membekali anak didik agar dapat mecintai Alloh dan RosulNya.
2.         Memberikan dasar pondasi bagi anak didik agar menjadi pribadi yang sholeh dan sholihah, serta berbakti kepada orangtua.
3.         Membina serta mengarahkan agar anak didik dapat berfikir secara kreatif dan mandiri.
4.         Melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan system learning by doing dalam kegiatan permainan yang menyenangkan bagi anak didik.
Program S1 PG-PAUD Universitas Terbuka menargetkan lulusannya menjadi tenaga pendidik PAUD Profesional yaitu yang dapat mengembangkan program PAUD dan membuat inovasi. Salah satu mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa adalah Analisis Kegiatan Pengembangan Anak Usia Dini. Dalam rangka memenuhi tugas dalam mata kuliah tersebut maka telah dilakukan penelitian di KB Daarul ‘Ilmi pada tanggal 25 Mei 2015 yang bertujuan mengumpulkan data mengenai kegiatan- kegiatan anak yang dianggap perlu diteliti lebih lanjut untuk selanjutnya dianalisis kritis.
Kemandirian anak sangat diperlukan dalam rangka membekali mereka untuk menjalani kehidupan yang akan datang. Perlu ketelatenan dan kesabaran pendidik dalam mengajarkan kemandirian. Penanaman kemandirian di Kelompok Bermain diharapkan agar anak dapat membuat keputusan secara mandiri dan belajar dari konsekwensi yang ditimbulkan keputusan yang diambilnya. Melihat hal tersebut menarik untuk dilakukan penelitian.

B.     Fokus Penelitian
Setelah diadakan observasi di KB Daaru ‘Ilmi, maka penelitian ini terfokus pada “membentuk karakter anak usia dini yang mandiri melalui kegiatan mengambil dan mengembalikan peralatan belajar sendiri”.


C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan :
1.      Mengumpulkan data mengenai:
a.        Alasan pendidik melakukan kegiatan “membentuk karakter anak usia dini yang mandiri melalui kegiatan mengambil dan mengembalikan peralatan belajar sendiri”;
b.      Tujuan pendidik melakukan kegiatan tersebut ;
c.       Kebijakan yang mendukung pendidik melakukan kegiatan tersebut;
2.      Membuat  analisis kritis  (critical analysis) mengenai kegiatan tersebut.

D.    Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat untuk
1.      Memberi masukan terhadap kegiatan pengembangan anak di KB Daarul ‘Ilmi
2.      Melatih mahasiswa melakukan Penelitian Kelas
3.      Mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menganalisis suatu kegiatan anak di lembaga PAUD



BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Kemandirian
Kemandirian adalah sikap dan perilaku seseorang yang mencerminkan perbuatan yang cenderung individual (mandiri), tanpa bantuan dan pertolongan dari orang lain. Kemandirian identik dengan kedewasaan, berbuat sesuatu tidak harus ditentukan atau diarahkan sepenuhnya oleh orang lain. Kemandirian anak sangat diperlukan dalam rangka membekali mereka untuk menjalani kehidupan yang akan datang.  Dengan kemandirian ini seorang anak akan mampu untuk menentukan pilihan yang ia anggap benar, selain itu ia berani memutuskan pilihannya dan bertanggung jawab atas resiko dan konsekwensi yang diakibatkan dari pilihannya tersebut.
Menurut Bacharuddin Mustafa (2008: 75) kemandirian adalah kemampuan untuk mengambil pilihan dan menerima konsekwensi yang menyertainya. Kemandirian pada anak-anak mewujud ketika mereka menggunakan pikirannya sendiri dalam mengambil berbagai keputusan; dari memilih perlengkapan belajar yang ingin digunakannya, memilih teman bermain, sampai hal-hal yang relatif lebih rumit dan menyertakan konsekwensi-konsekwensi tertentu yang lebih serius.
Selanjutnya Bacharuddin (2008: 75) menjelaskan bahwa tumbuhnya kemandirian pada anak-anak bersamaan dengan munculnya rasa takut (kekuatiran) dalam berbagai bentuk dan intensitasnya yang berbeda-beda. Rasa takut dalam takarannya yang wajar dapat berfungsi sebagai ‘emosi perlindungan’ (protective emotion) bagi anak-anak, yang memungkinkannya mengetahui kapan waktunya meminta perlindungan kepada orang dewasa atau orang tuanya.
Sedangkan menurut Syamsu Yusuf (2008: 130) kemandirian merupakan karakteristik dari kepribadian yang sehat (healthy personality). Kemandirian individu tercermin dalam cara berpikir dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri, serta menyesuaikan diri secara konstruktif dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
Dalam mendorong tumbuhnya kemandirian anak usia dini, Bacharudin Musthafa (2008: 75) menyarankan agar orang tua dan guru perlu memberikan berbagai pilihan dan bila memungkinkan sekaligus memberikan gambaran kemungkinan konsekwensi yang menyertai pilihan yang diambilnya. Dalam konteks persekolahan atau taman kanak-kanak, aspirasi dan kemauan anak-anak pembelajar perlu didengar dan diakomodasi. Dalam konteks lingkungan keluarga di rumah, ini menuntut orang tua untuk lebih telaten dan sabar dengan cara memberikan berbagai pilihan dan membicarakanya secara seksama dengan anak-anak setiap kali mereka dihadapkan pada pembuatan keputusan-keputusan penting. Semua ini diharapkan agar anak dapat membuat keputusan secara mandiri dan belajar dari konsekwensi yang ditimbulkan keputusan yang diambilnya.

B.     Ciri-Ciri Kemandirian Anak
Anak yang mandiri adalah anak yang memiliki kepercayaan diri dan motivasi yang tinggi. Sehingga dalam setiap tingkah lakunya tidak banyak menggantungkan diri pada orang lain, biasanya pada orang tuanya. Anak yang kurang mandiri selalu ingin ditemani atau ditunggui oleh orang tuanya, baik pada saat sekolah maupun pada saat bermain. Kemana-mana harus ditemani orang tua atau saudaranya. Berbeda dengan anak yang memiliki kemandiran, ia berani memutuskan pilihannya sendiri, tingkat kepercayaan dirinya lebih nampak, dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan teman bermain maupun orang asing yang baru dikenalnya.
Menurut Zimmerman yang dikutif oleh Tillman dan Weiss (2000) anak yang mandiri itu adalah anak yang mempunyai kepercayaan diri dan motivasi instrinsik yang tinggi. Zimmerman yakin bahwa kepercayaan diri dan motivasi instrinsik tersebut merupakan kunci utama bagi kemandirian anak. Dengan kepercayaan dirinya, anak berani tampil dan berekspresi di depan orang banyak atau di depan umum. Penampilannya tidak terlihat malu-malu, kaku, atau canggung, tapi ia mampu beraksi dengan wajar dan bahkan mengesankan. Sementara, motivasi instrinsik, atau motivasi bawaan, dapat membawa anak untuk berkembang lebih cepat, terutama perkembangan otak atau kognitifnya. Anak yang memiliki motivasi tinggi ini dapat terlihat dari perilakunya yang aktif, kreatif, dan memiliki sifat ingin tahu (curiositas) yang tinggi. Anak tersebut biasanya selalu banyak bertanya dan serba ingin tahu, selalu mencobanya, mempraktekkannya, dan mencoba-coba sesuatu yang baru.
Sedangkan menurut Pintrich (1999) anak mandiri itu adalah anak yang mampu menggabungkan motivasi dan kognitifnya sekaligus, sehinggga dapat dikatakan bahwa menjadi anak yang mandiri tergantung pada kepercayaan terhadap diri sendiri dan motivasinya. Pada aspek motivasi, anak yang mandiri, biasanya ditandai dengan kemauannya yang keras, tidak cepat putus asa, bahkan tidak cepat bosan sebelum ia mampu mengetahui dan mencapai sesuatu yang dicarinya. Sementara pada aspek kognitif, anak telah memiliki banyak pengetahuan dan perbendaharaan kata atau kalimat yang diutarakannya. Dengan segenap pengetahuan dan perbendaharaan kata tersebut, maka akan memuculkan sikap mandiri dan keberanian yang tinggi, baik dalam sikap dan perbuatannya, maupun dalam menetapkan keputusan yang diambilnya.
Selanjutnya, Tim Pustaka Familia (2006: 45) memberikan beberapa ciri khas anak mandiri, yaitu: 1) mempunyai kecenderungan memecahkan masalah dari pada berkutat dalam kekhawatiran bila terlibat masalah; 2) tidak takut mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan baik-buruknya; 3) percaya terhadap penilaian sendiri sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan, dan 4) mempunyai kontrol yang lebih baik terhadap hidupnya.
Dengan membaca beberapa pendapat di atas, dapat dipahami bahwa sebetulnya setiap anak itu cenderung untuk mandiri atau memiliki potensi untuk mandiri, karena setiap anak dikarunia perasaan, pikiran, kehendak sendiri, yang kesemuanya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase perkembangannya. Selain itu, kemandirian anak juga sangat dipengaruhi oleh perlakuan orang tua atau saudara-saudaranya dalam keluarga. Anak yang selalu diawasi secara ketat, banyak dicegah atau selalu dilarang dalam setiap aktivitasnya dapat berakibat patahnya kemandirian seseorang. Sikap yang bijak dan perlakuan yang wajar pada anak dapat memicu tumbuhnya kemandirian anak. Orang tua yang terlalu protektif pada anaknya, terlalu ketat pengawasannya, banyak dicegah, dengan alasan takut kotor, takut merusak, atau kekhawatiran terjadi kecelakaan, pada akhirnya bisa berakibat fatal. Alih-alih bermaksud untuk melindungi atau menjaga anak dari kecelakaan, kebersihan, dan kerusakan, malah membuat anak menjadi penakut, kurang percaya diri, serta serba ketergantungan pada orang lain.
Sikap yang wajar dan tidak berlebihan yang perlu dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Sylvia Rimm (2003: 47), yang menyatakan bahwa untuk menumbuhkan sikap percaya diri anak salah satunya adalah senang melihat keberhasilan anak dan kecewa melihat sikap buruk mereka. Cara ini, menurut Rimm, dianggap sebagai alat paling efektif dalam menerapkan disiplin pada anak. Cara lain, yang dikemukakan Rimm, adalah adakalanya orang tua perlu meninggikan nada suara serta bersikap tegas dalam memberikan batasan kepada anak agar rasa percaya diri bisa tumbuh dalam diri anak. 
Dengan meramu dari beberapa pendapat di atas, dapat dipahami bahwa ciri-ciri kemandirian anak, termasuk juga pada anak usia dini, adalah sebagai berikut:
1.   Kepercayaan pada diri sendiri. Rasa percaya diri, atau dalam kalangan anak muda biasa disebut dengan istilah ‘PD’ini sengaja ditempatkan sebagai ciri pertama dari sifat kemandirian anak, karena memang rasa percaya diri ini memegang peran penting bagi seseorang, termasuk anak usia dini, dalam bersikap dan bertingkah laku atau dalam beraktivitas sehari-hari. Anak yang memiliki kepercayaan diri lebih berani untuk melakukan sesuatu, menentukan pilian sesuai dengan kehendaknya sendiri dan bertanggung jawab terhadap konsekwensi yang ditimbulkan karena pilihannya. Kepercayaan diri sangat terkait dengan kemandirian anak. Dalam kasus tertentu, anak yang memiliki percaya diri yang tinggi dapat menutupi kekurangan dan kebodohan yang melekat pada dirinya. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan, sikap percaya diri perlu ditanamkan dan dipupuk sejak awal pada anak usia dini ini.
2.    Motivasi instrinsik yang tinggi. Motivasi instrinsik adalah dorongan yang tumbuh dalam diri untuk melakukan sesuatu. Motivasi instrinsik biasanya lebih kuat dan abadi dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik walupun kedua motivasi ini kadang berkurnag, tapi kadang juga bertambah. Kekuatan yang datang dari dalam akan mampu menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Keingintahuan seseorang yang murni adalah merupakan salah satu contoh motivsasi instrinsik. Dengan adanya keingintahuan yang mendalam ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang memungkinkan ia memperoleh apa yang dicita-citakannya. Dengan keinginan dan tekad yang kuat, orang biasanya menjadi lupa waktu, keadaan, dan bahkan lupa diri sendiri.
3.    Mampu dan berani menentukan pilihan sendiri. Anak mandiri memiliki kemampuan dan keberanian dalam menentukan pilihan sendiri. Misalnya dalam memilih alat bermain atau alat belajar yang akan digunakannya.
4.    Kreatif dan inovatif. Kreatif dan inovatif pada anak usia dini merupakan ciri anak yang memiliki kemandirian, seperti dalam melakukan sesuatu atas kehendak sendiri tanpa disuruh oleh orang lain, tidak ketergantungan kepada orang lain dalam melakukan sesuatu, meyukai pada hal-hal baru yang semula dia belum tahu, dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru.
5.     Bertanggung jawab menerima konsekwensi yang menyertai pilihannya. Di dalam mengambil keputuan atau pilihan tentu ada konsekwensi yang melekat pada pilihannya. Anak yang mandiri dia bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya apapun yang terjadi tentu saja bagi anak Taman Kanak-kanak tanggung jawab pada taraf yang wajar. Misalnya tidak menangis ketika ia salah mengambil alat mainan, dengan senang hati mengganti dengan alat mainan yang lain yang diinginkannya.
6.    Menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Lingkungan sekolah (Taman Kanak-kanak) merupakan lingkungan baru bagi anak-anak. Sering dijumpai anak menangis ketika pertama masuk sekolah karena mereka merasa asing dengan lingkungan di Taman Kanak-kanak bahkan tidak sedikit yang ingin ditunggui oleh orang tuanya ketika anak sedang belajar. Namun, bagi anak yang memiliki kemandirian, dia akan cepat menyesuaiakan diri degan lingkungan yang baru.
7.    Tidak ketergantungan kepada orang lain. Anak mandiri selalu ingin mencoba sendiri-sendiri dalam melakukan sesuatu tidak bergantung pada orang lain dan anak tahu kapan waktunya meminta bantuan orang lain, setelah anak berusaha melakukannya sendiri tetapi tidak mampu untuk mendapatkannya, baru anak meminta bantuan orang lain. Seperti mengambil alat mainan yang berada di tempat yang tidak terjangkau oleh anak.

C.     Mengembangkan Kemandirian Anak
Mengembangkan kemandirian pada anak pada prinsipnya adalah dengan memberikan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai akivitas. Semakin banyak kesempatan yang diberikan pada anak, maka anak akan semakin terampil mengembangkan skillnya sehingga lebih percaya diri. Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka mengembangkan kemandirian anak ini, sebagaimana yang disarankan oleh Ratri Sunar Astuti (2006: 49), yaitu:
1.    Anak-anak didorong agar mau melakukan sendiri kegiatan sehari-hari yang ia jalani seperti mandi sendiri, gosok gigi, makan sendiri, bersisir, berpakaian, dan lain sebagainya segera setelah mereka mampu melakukan sendiri.
2.    Anak diberi kesempatan sesekali mengambil keputusan sendiri, misalnya memilih baju yang akan dipakai.
3.    Anak diberi kesempatan untuk bermain sendiri tanpa ditemani sehingga terlatih untuk mengembangkan ide dan berpikir untuk dirinya. Agar tidak terjadi kecelakaan maka atur ruangan tempat bermain anak sehingga tidak ada barang yang membahayakan.
4.    Biarkan anak mengerjakan segala sesuatu sendiri walaupun sering membuat kesalahan.
5.    Ketika bermain bersama bermainlah sesuai keinginan anak, jika anak tergantung pada kita maka beri dorongan untuk berinisiatif dan dukung keputusannya.
6.    Dorong anak untuk mengungkapkan perasaan dan idenya
7.    Latihlah anak untuk mensosialisasi diri, sehingga anak belajar menghadapi problem sosial yang lebih kompleks. Jika anak ragu-ragu atau takut cobalah menemaninya terlebih dahulu, sehingga anak tidak terpaksa.
8.    Untuk anak yang lebih besar, mulai ajak anak untuk mengurus rumah tangga, misalnya menyiram tanaman, membersihkan meja, menyapu ruangan, dan lain-lain.
9.    Ketika anak mulai memahami konsep waktu dorong mereka untuk mengatur jadwal pribadinya, misalnya kapan akan belajar, bermain dan sebagainya. Orang tua bisa mendampingi dengan menanyakan alasan-alasan pengaturan waktunya.
10.   Anak-anak juga perlu diberi tanggung jawab dan konsekwensinya bila tidak memenuhi tanggung jawabnya. Hal ini akan membantu anak mengembangkan rasa keberartian sekaligus disiplin.
11.  Kesehatan dan kekuatan biasanya berkaitan juga dengan kemandirian, sehingga perlu memberikan menu yang sehat pada anak dan ajak anak untuk berolah raga atau melakukan aktivitas fisik.

D.    Pendidikan Karakter Anak Usia Dini
Karakter adalah tabiat atau kebiasaan untuk melakukan hal yang baik. Nilai-nilai karakter adalah sikap dan perilaku yang didasarkan pada norma dan nilai yang berlaku di masyarakat, yang mencakup aspek spiritual, aspek personal/ kepribadian, aspek sosial, dan aspek lingkungan.
Pendidikan karakter adalah upaya penanaman nilai-nilai karakter kepada anak didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai- nilai kebaikan dan kebajikan, kepada Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun agar menjadi manusia yang berakhlak.
Nilai- nilai pendidikan karakter yang dapat ditanamkan pada anak usia dini (0-6 tahun), mencakup empat aspek, yaitu:
1.      Aspek spiritual
2.      Aspek personal/ kepribadian
3.      Aspek sosial
4.      Aspek lingkungan
Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang melibatkan penanaman pengetahuan, kecintaan dan penanaman perilaku kebaikan yang menjadi sebuah pola/ kebiasaan. Pendidikan karakter tidak lepas dari nilai-nilai dasar yang dipandang baik. Pada pendidikan anak usia dini nilai-nilai yang dipandang sangat penting dikenalkan dan diinternalisasikan ke dalam perilaku mereka mencakup:
1.      Kecintaan terhadap Tuhan YME
2.      Kejujuran
3.      Disiplin
4.      Toleransi dan cinta damai
5.      Percaya diri
6.      Mandiri
7.      Tolong menolong, kerjasama, dan gotong royong
8.      Hormat dan sopan santun
9.      Tanggung jawab
10.  Kerja keras
11.  Kepemimpinan dan keadilan
12.  Kreatif
13.  Rendah hati
14.  Peduli lingkungan
15.  Cinta bangsa dan tanah air

E.     Teori Belajar Behavioristik
Belajar menurut teori behavioristik merupakan perubahan tingkah laku hasil interaksi antara stimulus dan respons, yaitu proses manusia untuk memberikan respon tertentu berdasarkan stimulus yang datang dari luar. Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar (outcome), yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat, dan tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi di dalam otak manusia karena hal tersebut tidak dapat dilihat. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.
Namun demikian, tidak kalah penting adalah masukan (input) yang berupa stimulus. Stimulus dapat dimanipulasikan untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan. Stimulus meliputi segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dicium, dirasa, dan diraba oleh seseorang.
Untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan, selain manipulasi stimulus, ada faktor penting lain yang sangat berpengaruh, yaitu faktor penguatan (reinforcement) yang mulai diperkenalkan oleh Pavlov maupun Thorndike. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Penguatan dapat ditambahkan dan dikurangi untuk memperoleh respons yang semakin kuat ataupun semakin lemah.
Thorndike (dalam udin S. Winataputra,2009:2.10) mengemukakan tiga dalil tentang belajar, yaitu dalil sebab akibat (law of effect), dalil latihan/ pembiasaan (law of execise), dalil kesiapan (law of readiness).
·         Dalil sebab akibat menyatakan bahwa situasi atau hasil yang menyenangkan yang diperoleh dari suatu respons akan memperkuat hubungan antara stimulus dan respons/ perilaku yang dimunculkan. Sementara itu, situasi/ hasil yang tidak menyenangkan akan memperlemah hubungan tersebut.
·         Dalil latihan/ pembiasaan menyatakan bahwa latihan akan menyempurnakan respons. Pengulangan situasi atau pengalaman akan meningkatkan kemungkinan munculnya respons yang benar. Walaupun demikian, pengulangan situasi yang tidak menyenangkan tidak akan membantu proses belajar.
·         Dalil kesiapan menyatakan kondisi- kondisi yang dianggap mendukung dan tidak mendukung pemunculan respons. Jika siswa sudah siap (sudah belajar sebelumnya) maka ia akan siap untuk memunculkan suatu respons atas dasar stimulus/ kebutuhan yang diberikan. Hal ini merupakan kondisi yang menyenangkan bagi siswa dan akan menyempurnakan pemunculan respons. Sebaliknya, jika siswa tidak siap untuk memunculkan respons atau stimulus yang diberikan atau siswa merasa terpaksa memberi respons maka siswa mengalami kondisi yang tidak menyenangkan yang dapat memperlemah pemunculan respons.


           



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah anak- anak, pendidik, dan pimpinan Kelompok Bermain Daarul ‘Ilmi Sleman.

B.     Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode interpretatif yaitu menginterpretasikan data mengenai fenomena/ gejala yang diteliti di lapangan. Pendekatan interpretatif memandang penelitian ilmiah tidaklah cukup untuk dapat menjelaskan 'misteri' pengalaman manusia sehingga diperlukan unsur manusiawi yang kuat dalam penelitian. Kebanyakan mereka yang berada dalam kelompok ini lebih tertarik pada kasus-kasus individu dari pada kasus-kasus umum (Morissan, 2009).

C.    Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.      Observasi, yaitu untuk melihat fenomena yang unik/ menarik untuk dijadikan fokus penelitian
2.      Wawancara, yaitu untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai fokus penelitian
3.      Dokumentasi, yaitu mengumpulkan bukti- bukti dan penjelasan yang lebih luas mengenai fokus penelitian

BAB IV
ANALISIS DATA
A.    Tabulasi Data
Untuk memudahkan analisis data, maka data hasil penelitian dibuat tabulasi sebagai berikut:
Observasi
Wawancara dengan Guru
Wawancara dengan Pimpinan KB
Dokumentasi
-Anak mengambil manik- manik dalam toples kemudian merangkainya sesuai keinginan mereka.
-Setelah selesai anak melepaskan manik- manik dan dimasukkan kembali ke toples
-Anak mengambil kursi plastik yang ditumpuk dipinggir dan mengangkat meja bersama- sama sebelum kegiatan pembelajaran dimulai
-Anak mengambil buku dan lem setelah di panggil guru satu per satu
-Anak mengerjakan tugas kolase
-Anak menjemur hasil karya anak di depan masjid yang jaraknya tidak dekat dengan kelas
-Anak mengembalikan kursi ditumpuk dan menggeser meja ke pinggir dengan bantuan guru
-Terlihat ada anak baru yang selalu dibantu pendidiknya
-Yang terpenting dalam kegiatan pembelajaran adalah menjadikan anak senang belajar.  Mereka dapat bekerjasama mengatur meja dan kursi itu hal yang membuat mereka mandiri.
-Tentu saja kami selalu mengawasi dan membantu apabila anak merasa kesuliatan dalam mengatur meja dan kursi.
-ya, ini sudah sering jadi anak sudah tahu dimana harus menjemur hasil karyanya.
-Tentunya tidak mudah melatih kemandirian anak. Yang jelas kami hanya memberi contoh yang kepada anak, selanjutnya kami membimbing anak agar bisa lebih mandiri dan pada akhirnya anak sudah bisa sendiri.
-KB Daarul 'Ilmi utamanya  menerapkan pendidikan karakter
-Untuk membekali anak dari dasar agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia supaya siap untuk memasuki jenjang selanjutnya.

-Dalam dokumen lembaga tercantum Misi lembaga salah satunya adalah membina serta mengarahkan agar anak didik dapat berfikir secara kreatif dan mandiri.

-Pendidik mempersilahkan anak- anak mengambil manik- manik dari toples dan berkreasi sesuai keinginan anak
-Setelah selesai pendidik meminta anak untuk membereskan manik- manik dan memasukkan kembali ke dalam toples
-Pendidik meminta anak mengambil kursi plastik sendiri sebelum kegiatan kolase dimulai.
-Setelah kegiatan selesai anak-anak diminta menjemur hasil karyanya di depan masjid
- Pendidik tidak mengawasi anak yang berlarian menuju masjid untuk menjemur hasil karya, hanya membantu anak- anak turun tangga pintu kelas saja.
-Setelah selesai guru meminta anak mengembalikan kursi ke pinggir
-Hal ini kami lakukan untuk melatih kemandirian anak, selain itu anak juga dapat berkreasi membentuk meja sesuai dengan kemauan mereka sendiri.
-Yang dilakukan tentunya memberi kesempatan anak untuk melakukan kegaiatan sendiri, memberi dorongan, dan membiarkan anak belajar melakukan sendiri meskipun masih salah- salah. Karena mulai dari kesalahan anak bisa melakukan hal yang benar akhirnya.
- Tentu saja penting, anak akan bisa membantu dirinya sendiri untuk melakukan apa saja. Setiap hari kami mengajarkan kemandirian kepada anak.

Dalam RKH tertulis kegiatan yang dilakukan adalah memegang benda sambil membuat kreasi sesuai imajinasi anak dan mengenal benda yang ada di langit dan dilanjutkan dengan kolase
Guru menggunakan manik- manik untuk kegiatan memegang benda sambil membuat kreasi sesuai imajinasi anak


Dalam RKH tertulis alat yang dipakai adalah manik- manik


B.     Analisis Kritis
Dalam dokumen lembaga KB Daarul ‘Ilmi tercantum misi lembaga salah satunya adalah membina serta mengarahkan agar anak didik dapat berfikir secara kreatif dan mandiri. Seperti penuturan pemimpin KB Daarul ‘Ilmi bahwa setiap hari di lembaganya mengajarkan kemandirian kepada anak. Hal ini dilakukan agar anak dapat membantu dirinya sendiri untuk melakukan apa saja yang anak inginkan.
Dalil latihan/ pembiasaan yang dikemukakan oleh Thorndike menyatakan bahwa latihan akan menyempurnakan respons. Pengulangan situasi atau pengalaman akan meningkatkan kemungkinan munculnya respons yang benar. Walaupun demikian, pengulangan situasi yang tidak menyenangkan tidak akan membantu proses belajar. Dengan mengajarkan kemandirian setiap hari melalui latihan, pengulangan situasi akan meningkatkan munculnya respon/ perilaku yang dimunculkan anak.
Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar (outcome), yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat, dan tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi di dalam otak manusia karena hal tersebut tidak dapat dilihat. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Anak sudah bisa dikatakan mandiri apabila anak sudah menunjukkan perubahan tingkah laku yang tadinya anak belum bisa menjadi bisa melakukan sesuatu.
Dalam mendorong tumbuhnya kemandirian anak usia dini, Bacharudin Musthafa (2008: 75) menyarankan agar orang tua dan guru perlu memberikan berbagai pilihan dan bila memungkinkan sekaligus memberikan gambaran kemungkinan konsekwensi yang menyertai pilihan yang diambilnya. Dalam konteks persekolahan atau taman kanak-kanak, aspirasi dan kemauan anak-anak pembelajar perlu didengar dan diakomodasi.
Dua kegiatan yang dilakukan yaitu kegiatan memegang benda sambil membuat kreasi dan membuat kolase terlihat sekali bahwa anak didik di KB Daarul ‘Ilmi sebagian besar sudah mandiri. Hal ini dapat dilihat saat anak- anak sudah seperti otomatis mereka mengambil peralatan belajar dan mengembalikannya sendiri dengan pengawasan dari pendidik. Bahkan pendidik membiarkan anak berkreasi menata meja untuk mereka belajar sesuai keinginan anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Bacharudin Musthafa di atas bahwa kemauan anak perlu di dengar dan di akomodasi.
Pimpinan KB Daarul ‘Ilmi menuturkan bahwa yang menjadi prioritas lembaga adalah pendidikan karakter anak. Hal ini dimaksudkan untuk membekali anak dari dasar agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia supaya siap untuk memasuki jenjang selanjutnya. Pendidikan karakter tidak lepas dari nilai-nilai dasar yang dipandang baik. Pada pendidikan anak usia dini nilai-nilai yang dipandang sangat penting dikenalkan dan diinternalisasikan ke dalam perilaku mereka, salah satu diantaranya adalah menjadikan anak mandiri.
Upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka mengembangkan kemandirian anak di KB Daarul ‘Ilmi adalah memberi kesempatan anak untuk melakukan kegaiatan sendiri, memberi dorongan, dan membiarkan anak belajar melakukan sendiri meskipun masih salah- salah. Karena mulai dari kesalahan anak bisa melakukan hal yang benar akhirnya, seperti yang dituturkan oleh pendidik KB. Hal ini sesuai dengan yang disarankan oleh Ratri Sunar Astuti Pegembangan kemandirian yaitu antara lain : Anak-anak didorong agar mau melakukan sendiri kegiatan sehari-hari yang ia jalani; Anak diberi kesempatan untuk bermain sendiri tanpa ditemani sehingga terlatih untuk mengembangkan ide dan berpikir untuk dirinya; Biarkan anak mengerjakan segala sesuatu sendiri walaupun sering membuat kesalahan.
Pelaksanaan kegiatan anak mengambil dan mengembalikan kursi plastik sendiri sudah berjalan baik. Ini berarti pendidik sudah berhasil mengembangkan kemandirian anak. Hanya saja hal yang masih perlu pengawasan dan bantuan adalah dalam menata meja yang terbuat dari kayu. Meskipun anak- anak mengangkat meja bersama- sama tentu saja mengandung resiko anak akan terbentur atau tertimpa meja yang lumayan berat untuk anak. Pendidik tidak bisa dikatakan salah dalam ini. Karena di dalam kegiatan tersebut banyak manfaatnya, seperti melatih anak bersosialisasi dengan teman, melatih anak bekerja sama dan tentunya mengasah kreatifitas anak membentuk meja sesuai keinginan mereka.
Pelaksanaan kegiatan anak menjemur hasil karya anak ke depan masjid, pendidik tidak mengawasi anak yang berlarian menuju masjid untuk menjemur hasil karya, hanya membantu anak- anak turun tangga pintu kelas saja. Jarak dari kelas ke masjid padahal tidak dekat. Anak- anak harus melewati lapangan sekolah dan taman depan masjid barulah menjemur hasil karya mereka di tangga masuk masjid. Anak- anak sendiri memang terlihat sudah mandiri, tetapi keselamatan anak tetap harus diawasi. Bisa saja anak terjatuh saat berlari- lari atau pada saat naik tangga masjid.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan mengambil dan mengembalikan peralatan belajar sendiri di TPA Daarul ‘Ilmi terbukti dapat membentuk karakter anak usia dini yang mandiri. Meskipun dalam pelaksanaannya masih perlu ditingkatkan lagi dalam pengawasannya terhadap anak.




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
1.      Misi KB Daarul ‘Ilmi salah satunya adalah membina serta mengarahkan agar anak didik dapat berfikir secara kreatif dan mandiri. Dalam kegiatan pengembangan kemandirian anak sudah dilaksanakan dengan baik. Terbukti dalam kegiatan mengambil dan mengembalikan peralatan belajar, anak- anak sudah bisa melakukannya sendiri dengan baik.
2.      Upaya- upaya yang dilakukan pendidik dalam mengembangkan kemandirian anak juga sudah sesuai
3.      Prioritas lembaga yang menekankan pada pendidikan karakter anak sudah dilaksanakan khususnya dalam hal melatih kemandirian.
4.      Pelaksanaan kegiatan mengambil dan mengembalikan peralatan belajar terbukti melatih kemandirian anak, hanya saja pendidik masih kurang dalam pengawasannya.

B.     Saran
Saran yang bisa saya berikan dalam penelitian ini adalah sebisa mungkin agar pendidik mengawasi semua kegiatan yang dilakukan anak. Hal ini untuk mencegah terjadinya hal- hal yang tidak diinginkan pada anak. Karena tugas seorang pendidik adalah mendidik dan mengasuh anak menggantikan fungsi dan peran orang tua di sekolah.



DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Ratri Sunar. (2006). Melatih Anak Mandiri.Yogyakarta: Kanisius

Kementrian Pendidikan Nasional. (2012). Pedoman Pendidikan Karakter pada Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Kemendiknas

Mustafa, Bacharudin. (2008). Dari Literasi Dini ke Literasi Teknologi. Bandung: Yayasan CREST (Center for Reseach on Education and Sociocultural Transformation).

Pintrich, P.R. (1999). The Role of Motivation in Promoting and Sustaining -Regulated Learning.(Online). Tersedia: www.ece.uncc.edu.

Rimm, Sylvia. (2003). Raising Preschoolers Parenting for Today. Terjemahan: Mendidik dan Menerapkan Disiplin Pada Anak Prasekolah.  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Setiawan, Denny. (2014). Analisis Kegiatan Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Tillman, K.J. dan Weiss, M (2000). Self-Regulated Learning as a Cross- Curricular Competence (PISA).(Online). Tersedia: www.pisa.on/pdf/turmo-ioste2004.pdf10 Agustus 2006
Tim Pustaka Familia. (2006) Seri Pustaka Familia MEMBUAT PRIORITAS, Melatih Anak Mandiri. Yogykarta: Penerbit Kanisius
Winataputra, Udin S; dkk (2009). Teori belajar dan pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka

Yusuf, Syamsu. (2009). Psikologi Perkembangan  Anak & Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar